Edotensei (Taxidermy)hewan yang sudah mati
Tahukah anda?
Saat ini kebanyakan taxidermist, atau pelaku Seni ini, sebagian dari mereka adalah wanita.
Selain sisi seni,Mereka Cenderung lebih piawai meramu dan mempercantik pernik hasil taxidermy berdasarkan fantasy atau mungkin saja berupa hewan-hewan yang Bernilai Eksotis misalnya saja tikus bersayap,monyet menggendong Tikus,atau monyet yang sedang murung.
Dilansir dari sebuah media,
Divya Anatharaman pernah menyebut seni ini sebagai “ruang transisi penggabungan antara kehidupan, kematian, dan ilmu pengetahuan”.
Seni ini tentu saja pernah mendapat beberapa pertentang dari para pencinta hewan,
Hannah L dari People for Ethical Treatment of Animals, “Kami menyarankan orang-orang yang tertarik mengambil kursus taxidermy untuk memilih hobi yang lainnya yang tidak menyakiti atau (dianggap) mengeksploitasi hewan.”
Namun, para taxidermist memerikan Alibi dan pembelaan dan berkata bahwa "Karya ini lahir dari rasa cinta dan menghargai semua makhluk"
“Kebanyakan hewan yang kami awetkan(penyamakan) adalah hewan yang mati karena tertabrak mobil atau mati dengan sendirinya,” ungkap Amanda Sutton,seorang taxidermist dari Inggris.
Pada era Tahun Saat ini, mempelajari art of taxidermy menjadi lebih mudah berkat tutorial di YouTube dan forum online yang mudah ditemui.
Para peminatnya pun terdiri dari kolektor,pecinta burung, dokter hewan, akuntan, dan beberapa kalangan komunitas tertentu.
Saat ini Kelas-kelas kursus taxidermy juga sudah dibuka di berbagai kota, antara lain London, Berlin, New York, dan Sidney.
Seorang taxidermist Margot Magpie, guru taxidermy yang kelasnya selalu penuh peminat, mengatakan bahwa dari kebanyakan nyali muridnya memang dipertanyakan saat harus `memproses` hewan mati menjadi hewan awetan, tapi bagi mereka kini itu tidak terlalu jadi masalah.
"Chantal Younis, taxidermist pemula lainnya, bahkan mengatakan, "ternyata ini sangat mungkin untuk dikerjakan,bahkan lebih mudah daripada membuatkan tas untuk Ibu saat Natal."
awas penipuan
BalasHapus